Budaya Organisasi dalam Mengelola Harta Wakaf

Budaya Organisasi dalam Mengelola Harta Wakaf

dosenekis.com - Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. [Schein, E. H. (Inggris) Organizational Culture and Leadership, San Fransisco: Jossey-Bass, 1985. hal. 168]

Sistem makna bersama adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi. [Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 2, Jakarta: Salemba Empat. Hal.256-266]

Budaya organisasi berkaitan dengan interaksi antara anggota dan bagaimana para anggota organisasi memahami karakteristik organisasi tersebut, dan tidak terkait dengan apakah anggota menyukai karakteristik tersebut atau tidak.

Menurut Undang-undang Wakaf No. 41 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 2006 bahwa pengelola harta wakaf adalah Nazhir yang berbentuk organisasi atau sekumpulan orang yang paling sedikit terdiri dari 3 orang, satu diantara anggota bertindak sebagai Ketua dan dalam menjalankan fungsinya terjadinya interaksi diantara anggota yang akan melahirkan budaya di dalam organisasi Nazhir.

Organisasi (bahasa Yunani: ὄργανον, organon - alat) merupakan wadah atau tempat berkumpulnya orang dengan 3 sistematis, terpimpin, terkendali, terencana, rasional dalam memanfaatkan segala sumber daya baik dengan metode, material, lingkungan dan uang serta sarana dan prasarana, dan lain sebagainya dengan efisien dan efektif untuk bisa mencapai tujuan organisasi. [Ambarwati, Arie (April 2018). Perilaku dan Teori Organisasi. Malang: Media Nusa Creative. hlm. 3. ISBN 978-602-462-052-3, dan Keith Davis, Human Relations at Work, (New York, San Francisco, Toronto, London: 1962).Hlm.15-19].

Kumpulan Orang (Organisasi) yang terdiri dari orang-orang ditujukan untuk saling mengenal dan bisa berinteraksi atau saling mengenal tertulis dalam Al Quran, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Organisasi dalam mencapai tujuan memiliki tugas-tugas saling terkait yang di distribusikan kepada semua anggota tanpa terkecuali, tetapi diantara anggota membutuhkan tolong menolong satu sama lain untuk mencapai tujuan yang baik bagi organisasi, disebutkan dalam Al Quran, "....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya."(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 2)

Untuk mencapai tujuan wakaf, maka budaya organisasi dalam mengelola harta wakaf memiliki karakteristik sebagai berikut:

Setiap anggota saling memberikan teladan kepada yang lain sebagaimana disebut dalam Al Quran, "Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur'an)." Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam." (QS. Al-An'am 6: Ayat 90), dan dalam ketentuan lain, "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Setiap anggota saling berbuat kebaikan atau bersedekah untuk meringankan beban orang lain, sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran, "Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 114) dan, "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Setiap anggota merasa tidak ada manusia yang lebih baik dari yang lainnya, kecuali taqwa, perhatikan Al Quran, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Setiap anggota membangun dan menjaga silahturahmi, sebagai perintah Al Quran, "Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh laknat dan tempat kediaman yang buruk (Jahanam)."

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 25) dan dalam Hadits, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Pemimpin organisasi memiliki keperdulian untuk memberikan bimbingan dengan menasehati, seperti diperintahkan Allah SWT, "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 55) dan, "Sungguh, manusia berada dalam kerugian, "kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr 103: Ayat 2-3)

Setiap anggota memiliki rasa saling menyayangi, yang dapat dilihat dalam Al Quran, "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12), dan di dalam Hadits, “Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan HR. Muslim), juga, dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda: “Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain……..” (HR. Imam Bukhari, HR. Muslim, dan HR. An Nasa’i).

Setiap anggota menghindari dari berbuat zhalim tapi berlaku adil untuk kebaikan, dapat dilihat dalam Al Quran, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl 16: Ayat 90)

Setiap anggota saling menghormati perbedaan, seperti perintah Al Quran, "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 22)

Dengan berpegang pada Al Quran dan Sunnah/Hadits maka, Excellent Organization Culture pada organisasi pengelola wakaf akan mencapai target yang melampaui harapan semua pihak, wakif, maukuf alaih, nazhir, pemerintah dan umat Islam yang dinilai dengan sistem pengukuran yang menggunakan berbagai standard internasional seperti, PMBOK (Project Management Body of Knowledge), BSC (Balance Score Cards) ISO 9001-2008, maupun Malcome Baldrige.

 Jazaakulloh khoiron

 

-------
Penulis,

Setiono Winardi, SH., MBA
Konsultan Bisnis Syariah dan Penggiat Wakaf

Komentar