Modal Sosial Kedermawanan

Modal Sosial Kedermawanan

dosenekis.com - Ini kabar baik bagi kita di tengah pandemi covid-19. Warga Indonesia dinyatakan sebagai warga paling dermawan sedunia. Ini berdasarkan laporan world giving index (WGI) yang dirilis Charities Aid Foundation (CAF) akhir pekan lalu. Yang menarik, score Indonesia cukup tinggi, yaitu 69. Jauh lebih tinggi dibanding penilaian terakhir 2018 lalu yang hanya 59.

The World Giving Index (WGI) merupakan laporan tahunan yang diterbitkan oleh Charities Aid Foundation (CAF). Data dikumpulkan oleh Gallup, lembaga polling di Amerika Serikat. Pada WGI, mereka memeringkat 140 negara di dunia berdasarkan seberapa dermawan atau ringan tangan mereka.

Ada tiga indicator dalam pemeringkatan WGI, yaitu menyumbang pada orang asing atau tidak dikenal, menyumbang uang, dan kerelawanan atau menjadi volunteer. Dari tiga indicator itu, Indonesia menempati peringkat teratas pada dua kategori.

Delapan dari 10 orang Indonesia menyumbang uang pada tahun 2020. Di kriteria yang lain, tingkat kerelawanan di Indonesia luar biasa. Lebih dari tiga kali lipat dibanding rata-rata tingkat kerelawanan dunia.

Yang menarik, kedermawanan ini ternyata tidak linier dengan kesejahteraan. Ini bisa dilihat dari 10 negara paling dermawan dalam WGI ini. Setelah Indonesia, negara miskin di Afrika, Kenya menjadi nomor dua paling dermawan. Tiga negara Afrika yang lain, juga masuk 10 teratas negara paling dermawan, yaitu Nigeria (3), Ghana (6), dan Uganda (8). Lainnya adalah Myanmar (4), Australia (5), Selandia Baru (7), Kosovo (9), dan Thailand (10).

Pandemi ternyata juga membuat banyak warga negara maju kurang peduli dengan orang lain. Amerika Serikat, misalnya, merosot dari peringkat lima di tahun 2018 ke peringkat 19. Begitu juga Singapura dan Inggris yang tahun ini meroto ke peringkat 22 dan 26. Bahkan, warga di negara maju seperti Jepang memiliki kepedulian yang sangat rendah kepada sesame. Skor Jepang hanya 12, jauh di bawah Indonesia yang 69. Begitu juga Portugal (sekor 20), Belgia (21), Italia dan Korea Selatan (22).

Pandemi memang menjadikan tingkat kedermawanan masyarakat Indonesia meningkat pesat. Di awal pandemic, begitu banyak komunitas yang peduli korban Covid-19 dan membuka donasi. Media, yayasan, dan lembaga social lainnya ramai-ramai mengumpulkan sumbangan untuk Covid dan disumbangkan ke berbagai rumah sakit. Juga ke pasien dan keluarganya.

Selain bantuan uang, masyarakat juga berdonasi dalam bentuk barang yang diperlukan untuk pasien Covid dan pencegahan. Banyak bantuan ventilator, APD, hingga yang kecil-kecil seperti masker. Juga bantuan untuk swab test, antigen hingga PCR. Masyarakat secara sukarela berderma dan mengumpulkannya untuk disumbangkan ke berbagai rumah sakit.

Sifat kedermawanan itu tak hanya untuk korban Covid. Di awal 2021 ini, misalnya, banyak bencana yang lalu diikuti oleh masyarakat untuk mengumpulkan bantuan. Bahkan, begitu mudah masyarakat menyumbang untuk korban bencana di luar negeri. Seperti korban di Gaza Palestina akibat digempur pasukan zionis Israel. Ustad Adi Hidayat yang membuka donasi untuk Palestina berhasil mengumpkan Rp 30 miliar hanya dalam waktu dua minggu.

Kontribusi Zakat dan Infak

Begitu tingginya kedermawanan juga tampak dari lembaga-lembaga social resmi, seperti lembaga zakat (LAZ) dan nazir wakaf. Tahun 2020, lembaga-lembaga zakat, Baznas dan LAZ, mencatat pengumpulan zakat yang meningkat dibanding sebelum pandemic, 2019. Baznas dan LAS melaporkan pengumpulan zakat, infaq, sedekah (ZIS) tahun 2020 meningkat, meski tidak seperti biasanya. Tahun 2019, LAZ dan Baznas berhasil mengumpulkan Rp 10,2 triliun.

Angka pengumpulan ZIS yang sebenarnya jauh dari angka tersebut. Riset gabungan Baznas dengan berbagai lembaga menyebutkan, penghimpunan ZIS yang tidak melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) mencapai Rp61,258 triliun. Ditambah yang bisa dihimpun OPZ sebesar Rp 10,2 triliun, diperkirakan jumlah ZIS mencapai Rp 71,4 triliun.

Angka itu pun masih jauh lebih rendah dari potensinya, yaitu hanya sekitar 21,7 persen. Berdasarkan Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ), per tahun 2019 tercatat potensi zakat Indonesia senilai Rp 233,8 triliun. Bahkan data Outlook Zakat Indonesia 2021 menyebutkan potensi zakat Indonesia pada tahun 2020 mencapai Rp327,6 triliun. Itu terdiri dari potensi zakat perusahaan Rp144,5 triliun, zakat penghasilan dan jasa Rp139,07 triliun, zakat uang Rp58,76 triliun, zakat pertanian Rp19,79 triliun, dan zakat peternakan Rp9,52 triliun.

Tentunya kontribusi dari masyarakat yang lain juga besar, karena filantropi sudah menjadi jiwa Bangsa Indonesia. Banyak perusahaan mengeluarkan Corporate Social Responsibility (CSR). Begitu juga pemeluk agama yang lain juga mengumpulkan donasi dan membantu penanganan Covid. Juga pasien dan keluarga terdampak covid.

Tingginya tingkat kedermawanan ini harus disyukuri. Sebab, di tengah keterbatasan kemampuan pemerintah, kedermawanan menjadi begitu penting. Kedermawanan menjadi modal sosial untuk penanganan pandemic yang kita belum tahu kapan berakhir. Modal sosial ini menjadi kekuatan untuk menghadapai pandemik. Kedermawanan yang sering disebut filantropi akan membantu pemerintah dalam mengusakan kesejahteraan masyarakat.

Untuk menjadi modal social yang efektif, kedermawanan ini akan lebih baik jika diorganisir menjadi filantropi modern dalam jangka panjang. Bukan filantropi tradisional yang bersifat individual saat pandemic ini saja. Yang kadang lebih didasari belas kasihan dan sekedar pemberian bantuan kepada si miskin. Yang seringkali ditumpangi kepentingan untuk menaikkan kelasnya di mata public.

Kita harapkan filantropi ini nantinya menjadi modal social untuk memperbaiki tatanan keadilan ekonomi. Yang mengurangi ketimpangan antara si kaya dan si miskin. Filantropi yang diwujudkan dalam mobilisasi sumber daya untuk mengubah ketidak adilan yang diyakini menjadi penyebab kemiskinan dan ketimpangan. Yang sudah kita rasakan sejak dulu, jauh sebelum pandemik.

Wallahu a’lam 

 

-------
Penulis
 
Dr. Imron Mawardi 
Dosen ekonomi syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Wakil Dekan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga 
 
 
*Artikel ini telah dimuat dalam Majalah Disway.id

Komentar