Rancang Bangun Sistem Ekonomi

rancang-bangun-sistem-ekonomi

dosenekis.com - Mendirikan suatu bangunan itu dimulai dengan meletakkan fondasi (foundation) yang kokoh. Di atasnya dibentuk lantai dasar (ground floor). Di atas lantai dasar ditegakkan tiang-tiang penyengga (pillar). Dalam sistem rumah Jawa, pendopo di bagian tengannya ditegakkan 4 tiang utama yang diucap soko-guru (main pillar). Kemudian dibentuk flafon (plafond). Serta bagian atas dibentuk atap (roof). Pada bangunan rumah itu pasti terdapat pintu-pintu (door) yang merupakan ruang masuk serta keluar serta jendela (window) yang menghubungkan ruang dalam serta dunia luar.

Menjadi persoalan adalah bagaimana menginterpretasi bangunan rumah ataupun gedung itu dengan bangunan ekonomi yang sifatnya abstrak. Interpretasi itu merupakan material ataupun bahan-bahan bangunan.

Dalam Ekonomi Islam, bahan bangunan itu merupakan ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an serta Sunah dan tradisi pemikiran yang sudah dipelopori oleh para ulama, filsuf serta tindakan-tindakan para pemimpin Islam, seperti para sahabat serta pemimpin-pemimpin selanjutnya yang dicatat dalam sejarah perkembangan perekonomian.

Suroso Imam Djazuli dari Universitas Airlangga berpendapat kalau hakikat Ekonomi Islam itu merupakan praktek aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh Nabi serta para sahabatnya. Bahkan sudah terbit buku mengenai praktek ekonomi yang dijalankan semasa Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, serta pandangan-pandangan seorang sahabat seperti Abuzar Al Ghifari yang dijuluki pelopor sosialis Islam.

Dari pemikiran itu terdapat dua eleman bangunan Ekonomi Islam, yakni Elemen Normatif serta Elemen Historis- sosiologis.

Bila menjajaki pendapat Imam Djajuli, maka yang pertama kali dibutuhkan merupakan kajian sejarah tentang praktek serta pertumbuhan ekonomi pada masa Nabi serta para sahabatnya.

Saat sekarang ini kajian yang komprehensif yang sifatnya historis belum ada, sebaliknya yang terdapat berupa sepotong-sepotong yang bersumber pada anekdote atau berita. Tetapi, seorang ekonom dari UII, Suwarsono Muhammad, sedang menyusun sejarah perekonomian yang komprehensif itu.

Dalam praktek, pengetahuan mengenai Ekonomi Islam lebih didasarkan pada kajian para pemikir-ulama, semacam Abu Yusuf, Abu Ubeid, Ibn Rush, Al Gazali serta Ibn Taimiyah.

Kajian ini menghasilkan dua tipe ilmu, yakni:

  • Fiqih Mu’amalah
  • Kalam ataupun teologi ekonomi yang menciptakan moral serta etika ekonomi.
Tetapi yang berkembang jadi arus utama (mainstream) merupakan kajian ekonomi fiqih yang menghasilkan ekonomi hukum (legal economics) yang jadi fondasi Ekonomi Syari’ah saat ini yang memfokus kepada ekonomi keuangan serta perbankan yang memiliki nilai instrumental yang besar.

 

Sumber:
Rancang Bangun Ekonomi Islam – M. Dawam Rahardjo

Komentar