Ekonomi Islam: Pendahuluan

ekonomi-islam-pendahuluan
dosenekis.com - Ekonomi Islam dikembangkan bersumber pada asumsi, perkara ekonomi itu bersifat multi-dimensional, sehingga memerlukan pendekatan antar disiplin, khususnya antara disiplin ilmu-ilmu keagamaan tradisional serta ilmu pengetahuan universal multi-disiplin. Dengan demikian, ilmu Ekonomi Islam itu merupakan suatu ilmu ekonomi kelembagaan (institutional economics).

Pendekatan tersebut memunculkan suatu struktur pemikiran tertentu serta aneka aliran pemikiran. Hasil pemikiran yang kompleks serta multi-dimensional itu memunculkan tiga kebutuhan, yakni:

  • Kebutuhan stream-lining ataupun pengaris bawahan berbagai macam temuan yang dinilai sangat mendekati kebenaran.
  • Kebutuhan restrukturisasi yang tidak berubah-ubah serta koheren.
  • Memerlukan integrasi untuk membentuk kekuatan serta keunggulan dalam aplikasinya.
Atas dasar anggapan di atas, maka pemikiran Ekonomi Islam pada dasarnya bisa digolongkan jadi tiga, yakni:

  • Merupakan pemikiran ekonomi yang berwujud teori serta metodologi pemikiran atau epistemologi.
  • Sistem ekonomi sebagai media pelaksananya lewat legislasi dan pelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya.
  • Kenyataan perekonomian yang berjalan, baik berupa perekonomian umat Islam, bangsa Indonesia ataupun dunia yang saling terkait.
Sesuai dengan kaedah ilmu pengetahuan yang telah jadi kesepakatan, suatu pengetahuan ilmiah hendaknya terdiri dari tiga aspek, yakni:

  • Diskripsi, anggapan serta evaluasi mengenai keadaan dan permasalahan masyarakat yang dikenal dengan ontologi.
  • Pendekatan, metode uraian serta pemecahan permasalahan yang dikenal dengan epistemology.
  • Rumusan hasil yang diharapkan, tujuan serta nilai guna dari pengetahuan tersebut yang dikenal dengan aksiologi.
Dewasa ini pemikiran Ekonomi Islam sudah mengalami pertumbuhan yang lumayan pesat dan cakupan yang komprehensif. Pada tingkatan pertumbuhan ini telah dapat diperoleh bahan untuk menyusun konsep sistem ekonomi Islam, baik mikro ataupun makro.

Sistem ekonomi itu mengandung dua penafsiran, yakni:

  • Sistem ekonomi yang umum, misalnya kapitalisme, sosialisme ataupun sosialis demokrasi.
  • Sistem ekonomi yang diberlakukan pada tingkatan nasional.
Pada tafsiran pertama butuh lebih dulu disusun dengan pertama-tama menyusun arsitektur ataupun rancang bangun. Disini sistem ekonomi diasumsaikan ataupun diumpamakan seperti suatu bangunan, rumah ataupun gedung. Sebelum dibangun jadi sistem, dibutuhkan pedoman berbentuk desain, arsitektur ataupun rancang bangun.


Sumber:
Rancang Bangun Ekonomi Islam - M. Dawam Rahardjo

Komentar